icon

LensaDaily.com

Kategori Berita

Cabang Berita

Pilih Tema:

Filter

Tipe Artikel

Rico Waas Tekankan Perkuat Pendidikan, Rakernas MPK Indonesia Momentum Bangun SDM Unggul

LensaDaily - Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menekankan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam mencetak generasi yang cerdas, berkarakter, adaptif, dan mampu menjawab tantangan masa depan.Hal tersebut dikatakannya saat menerima audiensi Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia Wilayah Sumatera Utara dan Aceh di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Jalan Sudirman, Senin 13 Juli 2026.Selain bersilaturahmi kunjungan yang dipimpin Ketua MPK Indonesia Wilayah Sumut-Aceh, Dr. RE Nainggolan ini juga menyampaikan rencana pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V MPK Indonesia yang akan digelar pada 15–18 Oktober 2026 di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Dijelaskan RE Nainggolan,, Rakernas akan diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Selain membahas isu-isu strategis pendidikan Kristen, forum nasional tersebut diharapkan mampu memperkuat peran lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus meneruskan semangat pengabdian yang diwariskan Nommensen. "Kami berharap Rakernas ini menjadi ruang untuk memperkuat peran lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia," ujar RE Nainggolan. Dalam kesempatan itu, RE Nainggolan juga secara langsung mengundang Rico Waas untuk menghadiri Rakernas MPK Indonesia di Tarutung. "Kehadiran kami untuk mengundang Wali Kota Medan Rico Waas agar dapat hadir pada Rakernas MPK Indonesia di Tarutung," katanya.Menanggapi undangan tersebut, Rico Waas didampingi  Kepala Dinas Damkarmat, Wandro Malau, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Barli Mulia Nasution dan Kabag Kesra Agus Maryono menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan."Pemko Medan berkomitmen dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul melalui pendidikan. Artinya, kualitas pendidikan tidak dapat ditingkatkan hanya oleh pemerintah, melainkan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan seluruh elemen masyarakat. Salah satunya melalui MPK", kata Rico Waas.Menurut Rico Waas, semangat Medan untuk Semua diwujudkan melalui pemerataan akses pendidikan berkualitas bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang. Karena itu, Pemko Medan terus mendorong sinergi dengan berbagai pihak agar lahir generasi unggul yang mampu membawa kemajuan daerah maupun bangsa. "Semangat Medan untuk Semua adalah memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Karena itu, kami terus mendorong lahirnya sumber daya manusia yang unggul melalui pendidikan yang berkualitas dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat," tegas Rico Waas. Pada audiensi tersebut, MPK Indonesia juga menyerahkan piagam penghargaan dan kain ulos kepada Rico Waas sebagai bentuk apresiasi atas perhatian dan inspirasi yang diberikan kepada lembaga tersebut. ***

14 Juli 2026

Tekankan MPLS Ramah, Rico Waas: Sekolah Harus Aman dan Nyaman

LensaDaily - Kekerasan dan perundungan ditekankan tak boleh terjadi lagi dilingkungan sekolah yang menjadi tempat pembelajaran, apalagi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).Hal ini ditekankan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat membuka secara resmi MPLS Ramah tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Medan resmi dimulai serentak hari ini yang ditandai dengan upacara bendera di UPT SMP Negeri 3 Medan, Jalan Pelajar, Medan Kota, Senin 13 Juli 2026.Dalam upacara tersebut, Rico Waas diwakili Aspemsos, Muhammad Sofyan membacakan amanat dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof, Abdul Mu'ti. Upacara turut dihadiri Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Adlan, Kepala BPMP Sumut, Afrizal Sihotang, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Barli Mulia Nasution, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Andy Yudhistira, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Medan, Bisri Batubara serta pada guru dan peserta didik.Membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Aspemsos menyampaikan bahwa MPLS tahun ini mengusung tema penting yakni "Hari Baru, Aman dan Nyaman di Sekolah". Beliau mengingatkan bahwa sekolah yang hebat bukan hanya yang mengejar nilai akademik, melainkan sekolah yang mampu membuat siswanya merasa terlindungi."Tidak boleh ada kekerasan, tidak boleh ada perundungan (bullying), tidak boleh ada perpeloncoan, dan tidak boleh ada tindakan yang membuat teman merasa takut atau dikucilkan," Kata Aspemsos menyampaikan pesan Menteri.Disampaikan Muhammad Sofyan, Siswa baru pun diajak untuk menghidupkan semangat Rukun Sama Teman melalui aksi nyata yang sederhana yakni menyapa teman baru dan mengajak bermain teman yang masih sendiri. Membiasakan "tiga kata sakti" yaitu Tolong,Maaf dan Terima Kasih. "Berani melapor kepada guru jika melihat ada teman yang diperlakukan tidak baik", ujar Muhammad Sofyan.Tidak hanya kepada siswa, Aspemsos juga menitipkan pesan mendalam kepada para guru dan tenaga kependidikan di Kota Medan. Menurutnya, hari pertama sekolah akan diingat anak sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, guru diminta memberikan senyuman, sapaan, dan pendampingan terbaik agar murid merasa percaya diri sejak hari pertama."Sesuai dengan pesan Presiden RI, saya mengajak seluruh siswa di Kota Medan untuk berkomitmen pada lima hal utama yaitu Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Menghormati dan mencintai orang tua dan guru  Belajar dengan baik dan sungguh-sungguh dan Rukun dengan teman serta Mencintai tanah air Indonesia", ucap Aspemsos.Diakhir sambutannya, Muhammad Sofyan mengucapkan Selamat mengikuti MPLS Ramah. Mari kita awali tahun ajaran baru ini dengan semangat untuk anak Indonesia hebat, khususnya anak-anak Kota Medan!.Sementara itu, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, Barli Mulia Nasution, menyampaikan pihaknya telah melakukan sosialisasi secara masif kepada para orang tua murid mengenai esensi dan mekanisme MPLS tahun ini. ."Kita sudah mensosialisasikan ke orang tua murid, baik melalui medsos, Zoom, dan media lainnya. Kita harapkan orang tua murid paham mengenai MPLS Ramah ini, sehingga anak-anak mereka merasa nyaman untuk bersekolah," ujar Barli.Menurut Barli, bahwa seluruh satuan pendidikan di bawah naungan Disdikbud Kota Medan wajib menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan bebas dari tindakan kekerasan maupun perundungan (bullying)."Kita sediakan sekolah yang ramah, yang tidak ada bullying. Ada budaya saling menghormati; siswa baru menghormati kakak kelasnya, kakak kelas menyayangi adiknya, dan semua menghormati guru. Intinya, ramah terhadap pendidikan," jelas Barli sembari menambahkan akan  mengelilingi sejumlah sekolah lain di Kota Medan untuk memantau langsung jalannya hari pertama MPLS Ramah.Sedangkan Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Medan, Bisri Batubara menyampaikan  bahwa MPLS Ramah tahun ini dirancang untuk mendukung Kurikulum Merdeka dengan fokus utama pada pembentukan akhlak, integritas, dan tanggung jawab siswa. "Kurikulum Merdeka banyak menekankan pada akhlak anak-anak. Melalui materi seperti program '7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat' dan penerapan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun), kita ingin menanamkan karakter tersebut sejak dini," ujar Bisri.Selain nilai sosial dan keagamaan, dijelaskan Bisri, siswa baru yang berjumlah 288 siswa ini dilatih untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan secara mandiri, seperti menjaga kebersihan kelas serta membiasakan diri mematikan lampu dan kipas angin setelah selesai belajar.Bisri berharap lewat MPLS Ramah ini, sekolah dapat mencetak generasi yang mandiri dan siap menjadi bagian dari Generasi Emas Indonesia 2045.***

13 Juli 2026

Maknai 1 Muharam, Rico Waas Ajak Warga Semangat Hijrah Berubah Lebih Baik

LensaDaily - Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas untuk mengajak masyarakat menjadikan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah dimanfaatkan memulai perubahan dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, semangat hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan, tetapi juga sebagai upaya menjadi pribadi, keluarga, dan lingkungan yang lebih baik.Pesan tersebut disampaikan Rico Waas saat menghadiri perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Lapangan Sejati Pratama, Kecamatan Medan Johor, Rabu 8 Juli 2026. Perayaan Tahun Baru Islam tersebut diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Mu'Arif Gusdriansyah, Juara I Qiraat Mujawwad Putra Provinsi Sumatera Utara 2026, dilanjutkan zikir bersama serta tausiah yang disampaikan Ustad Abdil Muhadir Ritonga.Turut hadir Wakil Ketua DPRD Medan Zulkarnaen, Dandim 0201/Medan Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo, Sekda Wiriya Alrahman, unsur Forkopimda, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan Impun Siregar, Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum, Pimpinan Perangkat Daerah di lingkungan Pemko Medan, para alim ulama, Ibu-ibu Pengajian dan organisasi kemasyarakatan Islam.Dijelaskan Rico Waas, semangat hijrah adalah semangat berubah. Yang sebelumnya kurang baik menjadi lebih baik, yang sebelumnya kurang bermanfaat menjadi lebih bermanfaat. Artinya perubahan selalu diawali dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Karena itu, ia mengajak masyarakat memperkuat komunikasi antara suami dan istri, orang tua dengan anak, serta mengurangi kebiasaan yang membuat hubungan antar anggota keluarga semakin renggang."Mulailah dari hal-hal kecil. Peduli kepada keluarga, peduli kepada tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, dan menjaga keamanan bersama. Kota ini milik kita semua sehingga menjadi tanggung jawab kita bersama untuk merawatnya," kata Rico Waas.Dalam kesempatan itu, Rico Waas juga mengaitkan semangat hijrah dengan Hari Ulang Tahun ke-436 Kota Medan yang diperingati pada Juli ini. Menurutnya, momentum tersebut menjadi pengingat bagi Pemko Medan untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat."Pemko Medan juga harus berhijrah menjadi lebih baik. Kalau ada pelayanan yang belum maksimal, harus diperbaiki. Jalan yang rusak diperbaiki, drainase dibenahi, pelayanan pendidikan dan kesehatan terus ditingkatkan. Jangan sampai waktu terus berjalan, tetapi pelayanan justru semakin buruk," tegas Rico Waas.Rico Waas menilai momentum pergantian tahun dalam kalender Islam bukan sekadar pergantian waktu, melainkan pengingat untuk melakukan introspeksi dan memperkuat komitmen dalam memberikan manfaat bagi sesama.Menutup sambutannya, Rico Waas mengucapkan selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sekaligus Hari Ulang Tahun ke-436 Kota Medan. Ia berharap Kota Medan terus berkembang menjadi kota yang maju, masyarakatnya semakin sejahtera, serta kehidupan sosial yang harmonis terus terjaga."Mudah-mudahan Kota Medan semakin maju, semakin sukses, masyarakatnya semakin sejahtera, keluarganya harmonis, anak-anaknya mendapatkan masa depan yang baik, dan kita semua selalu berada dalam lindungan Allah SWT," pungkasnya.Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, Ahmad Barli Mulia Nasution, kegiatan ini dirancang sebagai momentum besar untuk syiar Islam, dakwah, sekaligus menggerakkan semangat perubahan bagi generasi muda dan masyarakat luas.Dalam Tausiyahnya Ustad Abdil Muhadir Ritonga, mengajak masyarakat kota Medan khususnya umat muslim untuk menjaga keimanan dan akhlak anak-anak kita agar menjadi generasi masa depan yang berprestasi karena keimanannya. Selain itu Ustad Abdil juga mengajak umat muslim untuk meluangkan harta dan waktu yang kita punya untuk dijalan Allah SWT.***

09 Juli 2026

Raih 14 Emas, MIS Medan Pertahankan Gelar Juara Umum Kejurnas Sepatu Roda Piala Wali Kota Pariaman

LensaDaily - Klub sepatu roda Medan Inline Skate (MIS) Medan, Sumatera Utara kembali menjadi juara umum satu kategori speed pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) sepatu roda Pariaman Open 2026. Memperebutkan Piala Wali Kota Pariaman, lomba berlangsung pada 3-5 Juli 2026 di Arena Sepatu Roda Pantai Cermin Kota Pariaman, Sumatera Barat.Tim asuhan Pandji Prasetio mengukuhkan diri sebagai juara umum dua kali berturut-turut setelah resmi merebut 14 medali emas, 7 medali perak, dan 9 medali perunggu.Pada event sebelumnya (Tahun 2025), MIS Medan keluar sebagai juara umum satu kategori speed dengan perolehan 19 medali emas, 14 perak dan 12 perunggu, jauh meninggalkan Jambi Inline Skate (JIS) di posisi ke-2 dengan 7 emas, 5 perak dan 2 perunggu serta rekan se-Kota, Bintang Medan Roller Skate (BMRS) yang hanya mampu mengumpulkan 6 emas, 7 perak dan 6 perunggu.MIS Medan sukses di Kejurnas sepatu roda Pariaman Open 2026 dari Kelompok Umur (KU) D putra-putri dan Senior Putra-Putri. Mereka langsung mengantongi 3 medali emas, 2 perak, dan 2 perunggu di hari pertama. Emas pertama dipersembahkan Suri Alzira Mauza (KU D Putri) dari nomor ITT 200 M dan Mhd. Anugerah Abel Alfatih (KU D Putra) juga dari nomor ITT 200 M.Kemudian emas ketiga hari pertama disumbangkan Muhammad Lutfi Kamil Siregar (KU Senior Putra) dari nomor ITT 200 M. Sedangkan 2 perak 2 perunggu diraih oleh Khansa Fazian O'neal (Senior Putra), Radinka Hamda Sakhia Nasution (KU D Putri), Bagas Fathin Arkana (KU D Putra), dan Khansa Nayra Qatrinada (Senior Putri).Di hari kedua, MIS Medan menambah koleksi medali dari nomor Eliminasi 5000 dan 10.000 M melalui skater Suri Alzira Mauza, Naila Sakhi Andyra, Radinka Hamda Sakhia Nasution, Muhammad Lutfi Kamil Siregar, Khansa Fazian O'neal, Shafa Aqilah, Laura Ivana Tesalonika Sihaloho, dan Aulia Abdul Gaffar.Di hari terakhir (day 3), MIS Medan memastikan diri kembali keluar sebagai juara umum satu kategori speed setelah sukses dari nomor 500 M+D, 1000 M, dan Team Sprint 500 M+D.Sementara posisi kedua disusul BMRS dengan perolehan medali, 13 emas, 6 perak, dan 6 perunggu. Di posisi ketiga Payakumbuh Skate Club dengan jumlah medali yang diraih 9 emas, 5 perak, dan 3 perunggu.Kejurnas sepatu roda Pariaman Open 2026 ini diikuti sebanyak 756 atlet sepatu roda dari 42 klub se-Indonesia. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Pariaman, Yota Balad, Jumat, 3 Juli 2026.Wali Kota Pariaman, Yota Balad mengatakan bahwa lintasan sepatu roda di Kota Pariaman adalah salah satu lintasan sepatu roda terbaik di Sumatera Barat.“Kita menyelenggarakan berbagai event khususnya event olahraga yang mendatangkan atlet-atlet hadir di Kota Pariaman. Hal ini sesuai dengan visi misi kami Wali Kota Pariaman dan Wakil Wali Kota Pariaman yaitu menjadikan Kota Pariaman sebagai tujuan wisata, salah satunya meramikan Kota Pariaman adalah sport tourism. Ini merupakan salah satu indikator bahwasanya wisatawan bisa datang ke Kota Pariaman dengan berolahraga”, kata Yota.Yota Balad menyebutkan kegiatan sepatu roda ini akan rutin dilakukan Pemerintah Kota Pariaman, minimal akan diselenggarakan dua kali dalam satu tahun. Event sepatu roda juga akan dijadikan event nasional dan terbesar di Kota Pariaman.Hal ini tentu akan mendatangkan ratusan hingga ribuan atlet, pelatih, official, dan keluarga atlet dari berbagai provinsi di Indonesia ke Kota Pariaman.***

06 Juli 2026

Bobby Nasution Klaim Keberhasilan Bangun Kota Medan, Pengamat: Diukur dari Hasil, Bukan Siapa yang Memulai

LensaDaily - Kritikan tertuju pada Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, atas pernyataannya yang mengklaim berbagai pembangunan dalam video profil Kota Medan merupakan hasil kerjanya saat menjabat Wali Kota Medan menuai kritik pedas. Polemik yang bermula dari pernyataan tersebut kini berkembang menjadi perdebatan mengenai ukuran keberhasilan pembangunan dan akuntabilitas pemerintah dalam mengelola proyek publik.Dalam pembukaan Rakernas APEKSI di Medan, Bobby menyampaikan secara berseloroh bahwa Wali Kota Medan Rico Waas 'menang' karena dapat menampilkan berbagai hasil pembangunan Kota Medan dalam video profil. Namun, ia menegaskan pembangunan tersebut merupakan hasil kerja pemerintahannya saat memimpin Kota Medan."Kalau boleh sombong, Alhamdulillah saya yang bangun itu," ujar Bobby.Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan klaim tersebut dengan menyoroti sejumlah proyek strategis yang dinilai belum selesai atau belum berfungsi optimal, seperti revitalisasi Lapangan Merdeka dan pembangunan Islamic Center Medan. Di sisi lain, sebagian masyarakat juga memberikan apresiasi terhadap pembangunan yang telah berjalan serta berharap pemerintahan saat ini dapat menuntaskan proyek-proyek yang masih berlangsung.Menanggapi polemik tersebut, pengamat kebijakan publik Elfenda Ananda menilai seorang kepala daerah memang berhak mengklaim pembangunan yang direncanakan maupun dimulai pada masa kepemimpinannya. Namun, menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak dapat diukur hanya dari siapa yang memulai atau meresmikan proyek."Klaim itu sah secara administrasi. Tetapi dalam perspektif kebijakan publik, keberhasilan harus dibuktikan dengan proyek yang selesai tepat waktu, berfungsi sesuai tujuan, bebas dari persoalan hukum, dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," katanya menjawab wartawan, Jumat 3 Juli 2026.Elfenda menegaskan legitimasi keberhasilan pembangunan harus bertumpu pada akuntabilitas dan capaian kinerja yang terukur, bukan sekadar seremoni atau narasi politik. Menurutnya, paradigma pembangunan saat ini seharusnya tidak lagi berhenti pada indikator input dan output, melainkan berorientasi pada outcome dan impact. Artinya, keberhasilan baru dapat diakui apabila proyek selesai sesuai target, dimanfaatkan masyarakat, memberikan dampak sosial maupun ekonomi, serta tidak menjadi beban keuangan daerah akibat mangkrak atau membutuhkan perbaikan berulang."Kalau sebuah proyek strategis masih belum selesai atau belum berfungsi optimal, maka secara objektif capaian pembangunannya belum bisa disebut tuntas," tegasnya.Ia juga mengingatkan bahwa penyelesaian proyek strategis sering kali melibatkan lebih dari satu periode pemerintahan. Karena itu, keberlanjutan pembangunan harus menjadi prioritas agar pergantian kepemimpinan tidak menghambat proyek yang telah direncanakan.Hematnya, kritik netizen atas pernyataan Bobby Nasution yang berkembang di media sosial, justru menunjukkan masyarakat semakin kritis dalam mengawasi penggunaan anggaran publik."Respons masyarakat seharusnya dijadikan bahan evaluasi. Pemerintah tidak perlu terjebak pada pencitraan, tetapi fokus membuktikan hasil pembangunan melalui transparansi, akuntabilitas, dan manfaat nyata bagi masyarakat," pungkas Analis FITRA Sumut ini. Senada dengan itu, Founder Ethics of Care, Dr Farid Wajdi, menilai polemik tersebut sesungguhnya bukan sekadar persoalan siapa yang membangun, melainkan menyangkut integritas akuntabilitas pemerintahan dalam negara demokrasi.Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan tidak pernah ditentukan oleh siapa yang memulai proyek atau banyaknya proyek yang diumumkan kepada publik, melainkan sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat."Yang sedang diuji publik adalah integritas akuntabilitas pemerintahan. Ketika sebuah proyek masih menyisakan pekerjaan, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat, atau kualitasnya masih dipersoalkan, klaim keberhasilan akan selalu berhadapan dengan satu pertanyaan sederhana tetapi sangat menentukan: berhasil menurut ukuran siapa?" ujarnya.Farid menilai pembangunan publik lahir untuk memenuhi kebutuhan warga, bukan kebutuhan simbolik seorang pemimpin. Karena itu, klaim keberhasilan menjadi problematis apabila realitas di lapangan memperlihatkan proyek belum selesai atau belum memberikan pelayanan kepada masyarakat."Anggaran telah terserap bukan berarti manfaat telah hadir. Bangunan telah berdiri bukan berarti pelayanan telah berjalan. Pembangunan baru memperoleh legitimasi ketika masyarakat menikmati hasilnya, bukan ketika pejabat menceritakan prosesnya," katanya.Ia juga menyoroti kecenderungan pembangunan dipersonalisasi sebagai prestasi individu, padahal proyek strategis merupakan hasil kerja institusi yang melibatkan proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga penyelesaian yang kerap berlangsung lintas periode pemerintahan.Menurut Farid, kritik publik di era digital juga tidak layak dipandang sebagai gangguan terhadap pemerintah, melainkan bagian dari pengawasan terhadap penggunaan uang negara."Yang dibutuhkan publik bukan pembelaan retoris, melainkan data progres, target penyelesaian, kualitas pekerjaan, transparansi anggaran, serta kepastian manfaat. Akuntabilitas lahir dari keterbukaan, bukan dari klaim," ujarnya.Baik Elfenda maupun Farid sepakat bahwa polemik tersebut menjadi pengingat bagi seluruh kepala daerah agar tidak menjadikan pembangunan sebagai komoditas politik atau ajang saling mengklaim prestasi. Mereka menilai keberhasilan pemerintah pada akhirnya akan diukur oleh masyarakat melalui kualitas pelayanan dan manfaat nyata yang dirasakan, bukan oleh narasi yang dibangun para pejabat."Jabatan publik tidak memberikan hak untuk memonopoli prestasi, tetapi menghadirkan kewajiban mempertanggungjawabkan hasil. Dalam demokrasi yang sehat, pengakuan paling bernilai bukan lahir dari ucapan seorang pemimpin mengenai dirinya sendiri, melainkan tumbuh secara alamiah dari masyarakat yang merasakan kualitas pembangunan secara nyata," pungkas Farid. ***

03 Juli 2026