Lainnya
LensaDaily - Pemko Medan segera menentukan fungsi serta pihak pengelola Gedung Warenhuis yang telah selesai direvitalisasi dan dalam waktu dekat akan menggelar rapat untuk memutuskan arah pemanfaatan gedung yang dinilainya sudah siap digunakan. Kondisi Gedung Warenhuis saat ini sudah sangat baik dan representatif.Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap saat meninjau gedung bersejarah yang terletak di kawasan Kesawan tersebut, Senin 12 Januari 2026. “Dalam satu atau dua hari ke depan kita akan langsung rapat untuk menentukan gedung ini akan dijadikan apa. Bangunannya sudah siap, sangat cantik dan indah,” ujarnya didampingi Kadis Pariwisata M. Odi Anggia Batubara dan Plt. Camat Medan Barat Maswan Harahap.Ia menjelaskan, salah satu hal yang akan dibahas adalah penentuan dinas yang akan mengelola Gedung Warenhuis. Beberapa opsi yang dipertimbangkan antara lain Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pariwisata, atau kerja sama dengan pihak ketiga. Menurut Zakiyuddin, opsi kerja sama dengan pihak ketiga terbuka karena biaya operasional gedung yang cukup besar.“Bangunan ini besar, biaya operasionalnya juga besar, mulai dari listrik, air, hingga keamanan. Itu semua harus diperhitungkan,” katanya.Terkait fungsi gedung, Zakiyuddin menyampaikan keinginannya agar Gedung Warenhuis kembali pada niat awal pembangunannya, yakni sebagai ruang bagi aktivitas seni dan kreativitas. Ia berharap gedung tersebut dapat menjadi wadah bagi para seniman dan komunitas kreatif.“Saya lebih suka arah pemanfaatannya kembali ke niat awal, sebagai tempat kreatif bagi orang-orang seni dan seniman,” ungkapnya.Selain itu, Gedung Warenhuis juga memiliki potensi sebagai lokasi berbagai kegiatan. Berdasarkan masukan dari Dinas Pariwisata, gedung ini telah banyak diminati untuk penyelenggaraan acara seperti pernikahan, pameran, hingga rapat kerja nasional.Zakiyuddin menambahkan, lahan kosong di sekitar gedung juga direncanakan untuk dimanfaatkan sebagai area parkir guna mendukung kegiatan di Gedung Warenhuis.Ia memastikan, gedung tersebut terbuka untuk digunakan komunitas kreatif yang ingin menggelar kegiatan seperti diskusi atau acara seni. Namun, mekanisme penggunaan nantinya akan menjadi tanggung jawab dinas pengelola yang ditetapkan oleh Pemko Medan.“Karena ini milik pemerintah, nanti dinas yang mengelola akan bertanggung jawab penuh terhadap pemanfaatan dan penggunaan gedung ini,” ujarnya.
12 Januari 2026LensaDaily - Muhammad Rizki Nugroho, musisi asal kota Medan yang akrab disapa dengan nama panggung Nuh, kini tengah menapaki perjalanan baru dalam dunia musik Indonesia. Nama Nuh mencuat setelah lagu “Teruntuk Mia” viral di berbagai platform digital. Dirilis pada 13 Juni 2024, lagu bernuansa pop melayu ini kini telah diputar lebih dari 48 juta kali di Spotify dan menjadi latar dari ribuan video di TikTok bertema romansa. Bagi Nuh, lagu ini bukan hanya karya yang mengangkat namanya, tetapi juga sebagai titik balik dalam kehidupannya sebagai musisi.“Iya, alhamdulillah dengan lagu Teruntuk Mia, Nuh mulai dikenal, walaupun masih banyak juga yang belum tahu siapa Nuh, hanya tahu lagunya saja. Kalau untuk pencapaian sejauh ini, mungkin sudah dinikmati jutaan orang,” tuturnya membuka pembicaraan, Selasa 11 November 2025.Lagu berjudul “Teruntuk Mia” hadir dengan aransemen sederhana khas pop melayu, dipadu petikan gitar lembut yang mengiringi vokal hangat milik Nuh. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan utama lagu tersebut. Tidak ada produksi megah, tidak ada gimik berlebihan, hanya perasaan jujur yang mengalir dari seorang pria yang ingin mengungkapkan rasa syukur kepada orang yang dicintainya. Lagu berdurasi tiga menit lebih itu terasa intim, seolah Nuh sedang berbicara langsung kepada pendengarnya.Sosok “Mia” dalam lagu ini bukanlah karakter rekaan, melainkan istri Nuh sendiri. Ia menjelaskan bahwa lagu ini adalah bentuk ungkapan syukur dan cinta yang tulus untuk sang pendamping hidup. Dari perasaan itulah, “Teruntuk Mia” tumbuh menjadi lagu yang mampu menyentuh banyak hati tanpa perlu banyak kata.Menariknya, lagu yang kini menjadi fenomena ini pada awalnya justru direncanakan sebagai karya terakhir dari Nuh. Saat itu, ia sempat terpikir untuk berhenti berkarya di bidang musik dan kembali menjalani kehidupan seperti orang kebanyakan. Namun, takdir justru membalikkan keadaan. “Teruntuk Mia awalnya saya rencanakan jadi lagu terakhir sebelum berhenti bermusik. Tapi ternyata justru lagu inilah yang membuka jalan baru dan menumbuhkan kembali semangat saya untuk berkarya,” ungkapnya.Nuh mengaku, proses viralnya lagu tersebut benar-benar di luar dugaannya. Ia tidak membuat kampanye dan strategi promosi apa pun, bahkan Ia tidak menyangka lagu yang ditulis dari hati bisa diterima seluas itu oleh jutaan pendengar. “Saya juga sebenarnya tidak menyangka dan sama sekali tidak merencanakan untuk viral. Tapi kalau ditanya kenapa banyak yang suka, mungkin karena lagunya cukup easy listening dan gampang dicerna,” ujarnya.Kini, dengan pencapaian yang tak terduga itu, Nuh semakin mantap melanjutkan langkahnya di dunia musik. Ia berkomitmen untuk tetap menulis lagu dengan kejujuran yang sama seperti pada karya sebelumnya dan menjadikan setiap karya sebagai refleksi dari perasaan yang ia alami. Nuh ingin setiap lagunya tetap lahir dari perasaan yang benar-benar ia alami, bukan sekadar lirik saja.Lagu “Teruntuk Mia” bukan sekadar lagu cinta. Lagu ini adalah kisah tentang ketulusan, pertemuan, dan bukti perjalanan seorang musisi yang justru menemukan dirinya kembali melalui musik yang lahir dari hati. Dari Medan, nama Nuh kini bergema di seluruh Indonesia, membawa warna pop melayu yang hangat dan dekat di telinga banyak insan.
11 November 2025LensaDaily - Grup musisi elektrik asal Inggris, Honne mengumumkan konser di Kota Medan batal. Seharusnya konser Honne berlangsung di Hotel Santika, Kota Medan, Kamis 31 Juli 2025 mendatang.Batalnya konser Honne di Medan ini diumumkan pada akun Instagram @hellohonne. "Hai Medan, Tidak yakin bagaimana kami berakhir di sini tetapi kami sangat sedih mengumumkan bahwa pertunjukan kami di Medan telah dibatalkan," tulis dalam pengumuman disampaikan melalui instagram @hellohonne dikutip Minggu 27 Juli 2025.Dalam postingan tersebut, menyebutkan pembatalan konser Honne di Kota Medan, merupakan keputusan yang diambil oleh Pemerintah Daerah (Pemda). "Kami benar-benar menantikan apa yang akan menjadi pertunjukan khusus tetapi sayangnya keputusan itu di luar tangan kami dan diambil oleh pemerintah daerah," tulis dalam pengumuman itu.Honne mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki tempat khusus di hati Honne. Mereka berharap dikemudian hari dapat bisa menggelar konser di tanah air ini."Indonesia benar-benar memiliki tempat khusus di hati kami dan kami sangat bersemangat untuk kembali dan menjelajahi tempat-tempat baru, jadi dengan sangat sedih bahwa hasil ini telah terjadi," tulis dalam narasi pengumuman tersebut."Mohon maaf kepada semua fans kami yang membeli tiket untuk melihat kami untuk pertama kalinya di Medan yang indah. Mungkin suatu hari nanti kita akan mendapatkan kesempatan untuk kembali XX," tulis kembali dalam pengumuman itu.Dimana konser James Hatcher dan Andy Clutterbuck, yang merupakan personel Honne, mendapatkan penolakan dari kalangan masyarakat, dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Medan hingga organisasi kemasyarakatan di Kota Medan.Sebelumnya, Ketua MUI Kota Medan, H. Hasan Matsum, MAg, mengatakan bahwa pihaknya, menolak segala bentukan promosi dukungan terhadap LGBT, dilakukan oleh Honne.Hasan menjelaskan MUI Medan tidak melarang pertunjukan musik atau konser digelar di ibu kota Provinsi Sumut ini. Tapi, ia menyoroti pesan disampaikan dalam konser tersebut, diduga kuat menjadi ajang promosi LGBT.Atas hal itu, Hasan mengatakan MUI berkewajiban menolak segala kegiatan yang bertentangan, dengan ajaran agama dan nilai-nilai masyarakat.
27 Juli 2025LensaDaily - Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, berkomitmen untuk memberi ruang bagi warga binaan dalam menampilkan karya dan kreativitas mereka pada acara Pemko Medan.Komitmen ini disampaikannya saat membuka Pelatihan Tenun Ulos di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan, Rabu (16/7/2025).Dalam kegiatan yang dihadiri antara lain oleh perwakilan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Utara, Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Sumatera Utara, Ketua Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Sumatera Utara Prof. Dr. H. Mohammad Hatta, Ketua Dekranasda Kota Medan Airin Rico Waas, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Medan Yekti Apriyanti, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Medan llyan Chandra Simbolon, dan perwakilan BPJS Ketenagakerjaan Medan, warga binaan menampilkan pertunjukan tari tradisional yang memukau hadirin.Wali Kota menilai penampilan warga binaan ini bukti bahwa kreativitas dan seni dapat tumbuh di mana saja, bahkan di balik tembok penjara.“Tadi kita lihat mereka menari, dan kita tidak bisa membedakan mereka dengan penari profesional. Sama bagusnya. Mereka hebat,” ujarnya dengan bangga.Sebagai bentuk dukungan nyata, Wali Kota berjanji akan menghadirkan warga binaan yang telah mengikuti pelatihan dan seni pertunjukan dalam acara-acara resmi Pemko Medan. Menurutnya, mereka layak mendapat panggung, bukan hanya karena kemampuan, tetapi juga karena hak setiap manusia untuk diberi kesempatan.“Kami berjanji akan mengundang warga binaan yang telah berlatih untuk tampil di luar. Mereka berhak didengar, dilihat, dan diberi kesempatan,” tegasnya.Orang nomor satu di Pemko Medan ini menegaskan, pemasyarakatan tidak semata-mata berbicara tentang hukuman, tetapi tentang bagaimana harapan bisa tumbuh dari proses itu. Yang lebih penting dari hukuman, sebutnya, bagaimana seseorang bangkit dan melangkah ke depan setelahnya.“Pemasyarakatan tidak hanya bicara soal hukuman, juga tentang harapan, masa depan, tentang bagaimana kita melewati hukuman tersebut. Kita memberdayakan, bukan mengasingkan,” ujarnya.Rico Waas mengapresiasi pelatihan tenun ulos sebagai bentuk nyata pembinaan yang tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat kebudayaan lokal dan membuka potensi ekonomi bagi warga binaan setelah masa tahanan. “Tenun ulos bukan hanya soal kain, tapi tentang bagaimana masyarakat mencintai produk dan kebudayaannya sendiri,” katanya.Menurutnya, pelatihan ini membuktikan proses pemasyarakatan bisa menjadi jembatan menuju perubahan, bukan dinding penghalang masa depan. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, warga binaan dapat kembali menemukan arah hidupnya dan menjadi bagian dari pembangunan yang inklusif.Selain membuka pelatihan, Wali Kota Medan juga menyaksikan sejumlah penandatanganan kerja sama, salah satunya Perjanjian Kerja Sama antara Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan dan Dinas Ketenagakerjaan Kota Medan tentang Peningkatan Kompetensi Warga Binaan Pemasyarakatan melalui Penyelenggaraan Pelatihan Kemandirian Berbasis Kompetensi di Lapas Perempuan Kelas IIA Medan.Wali Kota juga mengunjungi stand pameran kerajinan tangan dan kuliner, serta kamar hunian warga binaan.(Medan)
17 Juli 2025LensaDaily - Parade Budaya (Kostum Karnaval) & Multi Etnis bertajuk Colorful Medan Carnival (CMC) 2025 berlangsung meriah. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dan Ketua TP PKK Kota Medan Airin Rico Waas kompak mengenakan pakaian adat Melayu menyaksikan parade yang berlangsung di kawasan Jalan Balai Kota Medan, Sabtu 5 Juli 2025 malam.Nuansa Medan sebagai kota multi etnis jelas tergambar dalam event CMC 2025 yang berlangsung sangat meriah ini. Wakil Wali Kota H Zakiyuddin Harahap dan istri Martinijal Zakiyuddin juga hadir mengenakan pakaian adat Tapanuli Selatan.Begitu juga dengan Sekda Wiriya Alrahman beserta Ketua DWP Kota Medan Ismiralda Wiriya Alrahman, mengenakan pakaian adat Melayu. Serta seluruh pimpinan perangkat daerah di lingkungan Pemko Medan, semua hadir mengenakan pakaian adat dari berbagai etnis yang ada di Kota Medan.Bupati dan Wali Kota di Sumut, unsur Forkopimda Kota Medan, Konsulat Jenderal negara tetangga, pimpinan stakeholder serta ribuan masyarakat yang memadati seputaran Lapangan Merdeka, turut menyaksikan atraksi parade budaya yang diusung dalam CMC 2025, sebagai event yang digelar untuk memeriahkan Hari Jadi Ke-435 Kota Medan tersebut.Selain sebagai hiburan, CMC 2025 juga diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekaligus menjadi wujud bahwa Kota Medan merupakan kota multikultural yang warganya hidup dengan harmonis dalam bingkai keberagaman.Parade budaya diawali dengan marching band dari sekolah Sinar Husni Medan. Setelah itu para peserta Kostum Karnaval tampil menunjukkan kreatifitasnya yang penuh inovatif disambut tepuk tangan meriah dan langsung mendapat aplaus meriah dari seluruh yang hadir.Yang menariknya lagi, peserta CMC 2025 tidak hanya dari Kota Medan, beberapa kabupaten dan kota di Sumut juga mengirimkan pesertanya sehingga semakin memeriahkan event yang digelar Pemko Medan melalui Dinas Pariwisata Kota Medan tersebut.CMC 2025 semakin meriah lagi dengan hadirnya peserta dari seluruh kecamatan di Kota Medan. Masing-masing tampil dengan apik mengusung kreativitas masing-masing sehingga mendapat aplaus luar biasa dari seluruh pengunjung yang telah hadir mulai sejak petang itu.Usai parade budaya, Rico Waas mengatakan, melalui CMC 2025, seluruh masyarakat dapat melihat begitu banyak kebudayaan yang mewarnai Kota Medan. Bahkan, imbuhnya, keberagaman tersebut merupakan sebuah kemewahan yang dimiliki oleh ibukota Provinsi Sumut ini. "Tadi sama-sama kita lihat bahwa ada beragam kebudayaan dari berbagai etnis yang dibawakan, sungguh luar bisa. Ini lah yang ingin kita tunjukkan kepada dunia luar, kepada masyarakat yang ada di Indonesia, bahwa Kota Medan ini lengkap sekali kebudayaannya. Kita apresiasi, termasuk dari rekan-rekan kecamatan," kata Rico Waas. Di momen HUT Medan ke-435 ini, Rico Waas berpesan agar semua pihak untuk tetap bersatu mewujudkan Medan Untuk Semua, Semua Untuk Medan. "Saya juga selalu berpesan dan mengingatkan seluruh jajaran di Pemko Medan, ayo kita sama-sama bergandeng tangan karena kami, kita, tidak bisa sendirian membangun Medan yang lebih baik," ungkapnya.
06 Juli 2025


