LensaDaily - Kota Metropolitan harus menciptakan sebuah solusi untuk memastikan agar pasokan pangan bisa tetap tersedia di tengah keterbatasan lahan pertanian dan ancaman krisis pangan. Hal ini ditegaskan Wali Kota Medan sekaligus Ketua Komisariat Wilayah I APEKSI, Rico Tri Putra Bayu Waas, dalam Forum Pangan Nasional Pemerintah Kota seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari rangkaian Rakernas APEKSI ke-XVIII tahun 2026, yang berlangsung di Hotel Grand Inna Medan, Senin 29 Juni 2026.Turut hadir membuka acara tersebut Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto. Selain itu hadir juga, Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam serta Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto, Dalam sambutannya, Rico Waas menyadari Kota Medan bukan merupakan daerah penghasil pangan. Dengan keterbatasan itu, Rico Waas menilai pentingnya sinergitas dengan daerah sekitar. Ia juga sempat berkaca dari pengalaman lonjakan harga cabai beberapa waktu lalu yang turut mempengaruhi inflasi daerah.Oleh sebab itu, orang nomor satu di Pemko Medan itu kini memperkuat kerja sama dengan kabupaten penyangga seperti kabupaten Karo, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai untuk menjaga pasokan kebutuhan pangan."Kuncinya adalah kolaborasi antardaerah untuk memastikan jalur distribusi pangan dari daerah penghasil masuk ke Medan tanpa hambatan," kata Rico Waas.Melalui forum ini, Rico Waas juga menyatakan bahwa Pemko Medan ingin belajar banyak dari kota-kota lain, seperti Bandung, Depok, dan Surakarta yang telah sukses menerapkan sistem smart Farming, dan Urban Farming. Maka dari itu, forum ini menjadi sharing session untuk menghadirkan solusi dan mengambil langkah konkret dalam menjaga kestabilan pangan dan juga inflasi daerah.​"Penting sekali untuk kita membuat strategi-strategi kreatif dari kota-kota kita. Karena kota ini sejatinya adalah hubdari ekonomi provinsinya ataupun kabupaten/kota sekitar. Kita tidak membuat produksi, tapi bisa jadi kita yang mengelola produksi dari yang lain," ujar Rico Waas.Sebagai tuan rumah Rakernas APEKSI ke-XVIII, Rico Waas juga berharap forum ini menjadi bagian dalam menghasilkan solusi konkret menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan urbanisasi.​Hari ini Rakernas APEKSI membawa tema "Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat". Kami mendorong seluruh kota yang ada di Indonesia bagaimana menciptakan ketangguhan secara ekonomi, fiskal, dan juga permasalahan ketahanan pangannya. Karena ini akan membawa efek kepada seluruh kita semua yang ada di Indonesia. Apabila ketahanan pangan kita baik, kota kita tangguh, ekonomi kita tangguh, kita akan bisa berjuang membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan," pungkas Rico Waas.Sementara itu Dalam keynote speech bertajuk "Indonesia di Simpang Jalan Menuju 2045", Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengingatkan seluruh Wali Kota yang hadir bahwa Indonesia sedang berada di momentum krusial Bonus Demografi yang memiliki batas kedaluwarsa sekitar tahun 2038 hingga 2040."​Jika kota-kota di Indonesia gagal menyediakan pangan yang sehat, aman, dan terjangkau, generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha tidak akan tumbuh menjadi manusia yang tangguh. Akibatnya, Indonesia akan sulit untuk menjadi negara maju," jelas Bima Arya.​Untuk itu Bima Arya menginstruksikan agar konsep kerja sama ke depan bergeser dari sekadar kolaborasi biasa menjadi co-creation, dimana pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat duduk bersama merancang ekosistem pangan dari hulu ke hilir sejak awal perencanaan."Semua harus dilibatkan mulai dari perencanaan, duduk bersama-sama. Itu yang namanya co-creation," tegas Bima Arya.​Wamendagri Bima Arya juga memuji kepemimpinan anak-anak muda seperti Rico Waas yang dinilai responsif terhadap berbagai isu. Berdasarkan data Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD), Kota Medan menempati peringkat kedua secara nasional untuk komitmen alokasi APBD tertinggi di sektor pangan bagi tingkat pemerintah kota.Anggaran ini dialokasikan secara terukur untuk ​memperlancar dan mensubsidi jalur distribusi logistik, ​memperkuat cadangan pangan pemerintah daerah, ​menggelar operasi pasar secara berkala guna mengintervensi harga saat terjadi lonjakan, serta ​sinergi pembiayaan bersama Bulog dan BUMD pangan.​"Saya sangat mengapresiasi Kota Medan yang komitmen anggarannya nomor dua tertinggi. Ini bukti bahwa kepala daerahnya, meski masih muda dan berlatar belakang modern, memiliki kepedulian luar biasa terhadap urusan isi meja makan warganya," puji Bima Arya yang menilai Rico Waas sebagai pemimpin daerah yang visioner.***
29 Juni 2026Tag: inflasi
LensaDaily - Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan, Pemerintah Kota Medan mendukung penuh dan siap bekerja sama dengan Tani Merdeka Indonesia Kota Medan dalam mengembangkan pertanian perkotaan yang inovatif dan berkelanjutan.Hal itu disampaikan Rico Waas saat menghadiri pelantikan pengurus kecamatan Tani Merdeka Indonesia se-Kota Medan, Minggu 2 November 2025 di Thayyiba Hall RM Wong Solo, Medan.Rico Waas mengapresiasi semangat para pengurus dari 21 kecamatan yang baru dilantik dan berharap gerakan ini dapat bersinergi dengan Pemko Medan dalam memperkuat ketahanan pangan.Ia menegaskan, pertanian masa kini tak lagi bergantung pada lahan luas seperti puluhan tahun lalu, melainkan bisa dikembangkan dengan teknologi seperti urban farming dan vertical farming.“Mari kita cari teknologi terbaik dan ajak anak-anak muda ikut membangun pertanian kota yang modern,” ujarnya.Menurutnya, salah satu penyebab inflasi di Medan adalah naiknya harga cabai akibat gagal panen. Karena itu, program Tani Merdeka di 21 kecamatan diharapkan menjadi backup plan yang membantu menjaga kestabilan harga pangan sekaligus mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).“Ini peluang besar bagi Tani Merdeka untuk menjadi pemasok utama bahan pangan lokal,” tegasnya.Ketua Tani Merdeka Indonesia Kota Medan H. Agus Suriyono menyampaikan, setelah pelantikan di tingkat kecamatan, kepengurusan akan segera dibentuk di 151 kelurahan dalam waktu tiga bulan ke depan.Agus menjelaskan, berbagai kegiatan pertanian perkotaan telah dilakukan jajaran Tani Merdeka di sejumlah kecamatan, seperti budidaya cabai, lele, maggot, dan anggur, hingga pengembangan sistem hidroponik dan akuaponik. Selain itu, seluruh limbah organik dari rumah tangga, hotel, dan restoran akan dikelola menjadi pupuk kompos, pakan ternak, serta pakan maggot untuk mendukung pertanian berkelanjutan.“Kami siap menjadi mata dan telinga pemerintah di lapangan, membantu menekan inflasi dan memperkuat ekonomi warga,” ujarnya.Hadir dalam kegiatan ini antara lain Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir, Ketua DPRD Medan Wong Chun Sen, Ketua DPW Tani Merdeka Sumut M. Husni, dan Ketua DPD Tani Merdeka Medan H. Agus Suriyono.Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan MoU Pengelolaan Limbah Sampah Organik dan Makanan Berlebih antara Tani Merdeka Medan, PD Pasar Medan, PHRI Sumut, dan IHGMA Sumut.
03 November 2025LensaDaily - Laju tekanan inflasi di Sumatra Utara (Sumut) selama tahun berjalan (Januari – November) terpantau hanya sebesar 1,13%. Sehingga laju tekanan inflasi di Sumut di tahun 2024 ini menurut Pemerhati Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, berpeluang untuk merealisasikan angka yang lebih rendah dari target paling bawah Bank Indonesia 1,5%. Dengan kondisi ini, ada peluang laju tekanan inflasi di Sumut akan finish dalam rentang 1,2% hingga 1,4%."Kita tidak bisa pungkiri bahwa ini sebuah keberhasilan bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), walaupun disisipi oleh kekuatiran melemahnya daya beli masyarakat," ujar Gunawan di Medan, Kamis (12/12/2024). Di tahun depan, kata Gunawan, ada beberapa ancaman inflasi yang tidak bisa di anggap remeh. Bahkan sebagian pemicu laju tekanan inflasi kedepan justru datang dari sisi eksternal. Dan ancaman inflasi yang datang dari eksternal, tentunya diluar kemampuan TPID untuk mengendalikannya.Inflasi eksternal berpeluang datang dari beberapa kemungkinan. Pertama dari kebijakan Presiden terpilih AS Donald Trump yang berpeluang membuka kembali perang dagang yang sempat dilakukannya dahulu. Termasuk juga kebijakan defisit fiskal yang digemborkan saat kampanye. Kebijakan Trump berpeluang menaikkan harga barang, yang berpeluang mendorong terjadinya laju tekanan inflasi. Baik langsung maupun tidak langsung Sumut akan terkena dampak dari kebijakan tersebut.Kedua, tensi geopolitik yang memburuk juga sangat berpeluang mendongkrak kenaikan harga minyak mentah maupun harga komoditas lainnya. Hal ini juga sangat berpeluang memicu terjadinya inflasi. "Ketiga, tren suku bunga acuan global yang bertahan tinggi. Dimana Bank Sentral di dunia akan lebih bernada hawkish, yang dipimpin oleh Bank Sentral AS," kata Gunawan.Dari tanah air, lanjut Gunawan, inflasi berpeluang terjadi dikarenakan oleh gangguan keuangan petani dan faktor cuaca, dimana deflasi yang sempat melanda Sumut telah mengurangi kemampuan keuangan petani untuk kembali bercocok tanam. Ada potensi gangguan produksi yang bisa memicu inflasi. Dan cuaca yang ekstrim juga berpeluang menjadi beban pengendalian inflasi di tahun yang akan datang. Jika beranggapan bahwa daya beli masih akan berada pada posisi yang sama di tahun depan, maka sebenarnya demand atau permintaan tidak akan mengalami lompatan yang signifikan. Ini bisa menahan laju tekanan inflasi itu sendiri. "Namun, jika inflasi terjadi disaat daya beli di tahun depan mengalami stagnasi, maka ini akan menjadi cerita pilu masyarakat Sumut," terangnya.Ia menilai inflasi di tahun 2025 masih akan sesuai dengan target Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%. Dan berpeluang akan berakhir di batas tengah cenderung keatas. Pemerintah harus bersiap untuk merespon kemungkinan tersebut. "Dan gambaran bagaimana inflasi Sumut nantinya akan terbentuk, sangat terlihat di kuartal pertama tahun depan, khususnya saat Trump resmi menjabat sebagai Presiden AS," pungkasnya. (*)(Medan)
12 Desember 2024


