LensaDaily - Kritikan tertuju pada Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, atas pernyataannya yang mengklaim berbagai pembangunan dalam video profil Kota Medan merupakan hasil kerjanya saat menjabat Wali Kota Medan menuai kritik pedas. Polemik yang bermula dari pernyataan tersebut kini berkembang menjadi perdebatan mengenai ukuran keberhasilan pembangunan dan akuntabilitas pemerintah dalam mengelola proyek publik.Dalam pembukaan Rakernas APEKSI di Medan, Bobby menyampaikan secara berseloroh bahwa Wali Kota Medan Rico Waas 'menang' karena dapat menampilkan berbagai hasil pembangunan Kota Medan dalam video profil. Namun, ia menegaskan pembangunan tersebut merupakan hasil kerja pemerintahannya saat memimpin Kota Medan."Kalau boleh sombong, Alhamdulillah saya yang bangun itu," ujar Bobby.Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan klaim tersebut dengan menyoroti sejumlah proyek strategis yang dinilai belum selesai atau belum berfungsi optimal, seperti revitalisasi Lapangan Merdeka dan pembangunan Islamic Center Medan. Di sisi lain, sebagian masyarakat juga memberikan apresiasi terhadap pembangunan yang telah berjalan serta berharap pemerintahan saat ini dapat menuntaskan proyek-proyek yang masih berlangsung.Menanggapi polemik tersebut, pengamat kebijakan publik Elfenda Ananda menilai seorang kepala daerah memang berhak mengklaim pembangunan yang direncanakan maupun dimulai pada masa kepemimpinannya. Namun, menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak dapat diukur hanya dari siapa yang memulai atau meresmikan proyek."Klaim itu sah secara administrasi. Tetapi dalam perspektif kebijakan publik, keberhasilan harus dibuktikan dengan proyek yang selesai tepat waktu, berfungsi sesuai tujuan, bebas dari persoalan hukum, dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," katanya menjawab wartawan, Jumat 3 Juli 2026.Elfenda menegaskan legitimasi keberhasilan pembangunan harus bertumpu pada akuntabilitas dan capaian kinerja yang terukur, bukan sekadar seremoni atau narasi politik. Menurutnya, paradigma pembangunan saat ini seharusnya tidak lagi berhenti pada indikator input dan output, melainkan berorientasi pada outcome dan impact. Artinya, keberhasilan baru dapat diakui apabila proyek selesai sesuai target, dimanfaatkan masyarakat, memberikan dampak sosial maupun ekonomi, serta tidak menjadi beban keuangan daerah akibat mangkrak atau membutuhkan perbaikan berulang."Kalau sebuah proyek strategis masih belum selesai atau belum berfungsi optimal, maka secara objektif capaian pembangunannya belum bisa disebut tuntas," tegasnya.Ia juga mengingatkan bahwa penyelesaian proyek strategis sering kali melibatkan lebih dari satu periode pemerintahan. Karena itu, keberlanjutan pembangunan harus menjadi prioritas agar pergantian kepemimpinan tidak menghambat proyek yang telah direncanakan.Hematnya, kritik netizen atas pernyataan Bobby Nasution yang berkembang di media sosial, justru menunjukkan masyarakat semakin kritis dalam mengawasi penggunaan anggaran publik."Respons masyarakat seharusnya dijadikan bahan evaluasi. Pemerintah tidak perlu terjebak pada pencitraan, tetapi fokus membuktikan hasil pembangunan melalui transparansi, akuntabilitas, dan manfaat nyata bagi masyarakat," pungkas Analis FITRA Sumut ini. Senada dengan itu, Founder Ethics of Care, Dr Farid Wajdi, menilai polemik tersebut sesungguhnya bukan sekadar persoalan siapa yang membangun, melainkan menyangkut integritas akuntabilitas pemerintahan dalam negara demokrasi.Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan tidak pernah ditentukan oleh siapa yang memulai proyek atau banyaknya proyek yang diumumkan kepada publik, melainkan sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat."Yang sedang diuji publik adalah integritas akuntabilitas pemerintahan. Ketika sebuah proyek masih menyisakan pekerjaan, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat, atau kualitasnya masih dipersoalkan, klaim keberhasilan akan selalu berhadapan dengan satu pertanyaan sederhana tetapi sangat menentukan: berhasil menurut ukuran siapa?" ujarnya.Farid menilai pembangunan publik lahir untuk memenuhi kebutuhan warga, bukan kebutuhan simbolik seorang pemimpin. Karena itu, klaim keberhasilan menjadi problematis apabila realitas di lapangan memperlihatkan proyek belum selesai atau belum memberikan pelayanan kepada masyarakat."Anggaran telah terserap bukan berarti manfaat telah hadir. Bangunan telah berdiri bukan berarti pelayanan telah berjalan. Pembangunan baru memperoleh legitimasi ketika masyarakat menikmati hasilnya, bukan ketika pejabat menceritakan prosesnya," katanya.Ia juga menyoroti kecenderungan pembangunan dipersonalisasi sebagai prestasi individu, padahal proyek strategis merupakan hasil kerja institusi yang melibatkan proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga penyelesaian yang kerap berlangsung lintas periode pemerintahan.Menurut Farid, kritik publik di era digital juga tidak layak dipandang sebagai gangguan terhadap pemerintah, melainkan bagian dari pengawasan terhadap penggunaan uang negara."Yang dibutuhkan publik bukan pembelaan retoris, melainkan data progres, target penyelesaian, kualitas pekerjaan, transparansi anggaran, serta kepastian manfaat. Akuntabilitas lahir dari keterbukaan, bukan dari klaim," ujarnya.Baik Elfenda maupun Farid sepakat bahwa polemik tersebut menjadi pengingat bagi seluruh kepala daerah agar tidak menjadikan pembangunan sebagai komoditas politik atau ajang saling mengklaim prestasi. Mereka menilai keberhasilan pemerintah pada akhirnya akan diukur oleh masyarakat melalui kualitas pelayanan dan manfaat nyata yang dirasakan, bukan oleh narasi yang dibangun para pejabat."Jabatan publik tidak memberikan hak untuk memonopoli prestasi, tetapi menghadirkan kewajiban mempertanggungjawabkan hasil. Dalam demokrasi yang sehat, pengakuan paling bernilai bukan lahir dari ucapan seorang pemimpin mengenai dirinya sendiri, melainkan tumbuh secara alamiah dari masyarakat yang merasakan kualitas pembangunan secara nyata," pungkas Farid. ***
03 Juli 2026Tag: lapanganmerdeka
LensaDaily - Ratusan skater tampil di Go Skateboarding Day (GSD) North Sumatera 2026 di Lapangan Merdeka Medan, Minggu 21 Juni 2026. Keberadaan event dan fasilitas yang memadai menjadi faktor penting dalam mendorong perkembangan olahraga skateboarding di daerah. Hal tersebut dikatakan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution yang hadir menyaksikan GSD dan berharap semakin banyak event dan skatepark dibangun di Sumut untuk mendukung perkembangan olahraga skateboard.Menurut Bobby Nasution, keberadaan event dan fasilitas yang memadai menjadi faktor penting dalam mendorong perkembangan olahraga skateboarding di daerah. Karena itu, ia mendorong kabupaten/kota untuk menghadirkan ruang bagi para skater sekaligus memperbanyak kompetisi.“Banyak dari kabupaten/kota yang minta (skatepark), dari kami nanti yang besar. Yang terpenting ada dua, event tolong dibanyakin karena tanpa event skater tidak akan bisa berlatih. Kedua tempatnya, mudah-mudahan nanti ada di beberapa kabupaten/kota dan kami dari provinsi bisa mengembangkannya lagi,” kata Bobby Nasution.Salah satu skatepark ikonik di Sumut saat ini adalah Skate Plaza Lapangan Merdeka Medan. Fasilitas tersebut dibangun saat Bobby Nasution menjabat sebagai Wali Kota Medan, bersamaan dengan revitalisasi Lapangan Merdeka dan pembangunan skate plaza di Kebun Bunga.Antusiasme masyarakat terhadap olahraga ini terlihat pada pelaksanaan GSD North Sumatera 2026 yang diikuti ratusan skater dari berbagai daerah. Tidak sedikit anak-anak yang turut berpartisipasi memeriahkan kegiatan tahunan tersebut.Bobby menilai pembinaan skateboarding harus dilakukan sejak usia dini karena olahraga ini membutuhkan proses latihan yang panjang dan berkelanjutan.“Ini bukan olahraga yang instan, perlu latihan yang panjang. Jadi, dari usia dini saya sangat berharap mereka memiliki tempat yang bagus. Apalagi skateboarding menjadi salah satu cabor di PON kemarin, kita perlu terus kembangkan ini,” ujarnya.Salah seorang skater asal Medan, Irfan, mengaku senang dengan perkembangan fasilitas skateboard di Sumut saat ini. Menurutnya, keberadaan sejumlah skatepark tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan para skater, tetapi juga mempererat hubungan antar komunitas.“Saya dan teman-teman sangat senang. Di Medan ada Kebun Bunga, di sini (Lapangan Merdeka), di Stadion Deliserdang, di Menteng juga ada, udah banyak. Dukungan Pak Bobby ke skater luar biasa, mudah-mudahan nanti ada yang besar,” kata Irfan.Turut hadir pada kegiatan tersebut Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sumut Mahfullah Pratama Daulay, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut Erwin Hotmasah Harahap, Kepala Dinas Perhubungan Sumut Yuda P. Setiawan, pimpinan OPD terkait, jajaran Komisi Indonesia Skateboard (KIS) Sumut, serta ratusan skater dari berbagai kabupaten/kota di Sumut.
22 Juni 2026LensaDaily - Kebersamaan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Kapolrestabes Medan Kombes. Pol. Jean Calvijn Simanjuntak dan Dandim 0201/Medan Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo berbaur dan senam bersama masyarakat dalam kegiatan car free day (CFD) di kawasan Jalan Balai Kota dan Lapangan Merdeka Medan, Minggu 24 Mei 2026.Setibanya di lokasi, Rico Waas bersama Forkopimda langsung bergabung dengan masyarakat mengikuti senam pagi yang berlangsung meriah dan penuh semangat. Hadir pula Anggota DPRD Kota Medan M. Afri Rizki Lubis.Menurut Rico Waas, ajang car free day juga menjadi wadah silaturahmi dan kebersamaan masyarakat Kota Medan.Kehadiran pimpinan daerah di tengah masyarakat disambut antusias warga. Banyak masyarakat memanfaatkan momen tersebut untuk menyapa dan berswafoto bersama Rico Waas maupun unsur Forkopimda lainnya.Suasana hangat dan penuh kekeluargaan pun tampak sepanjang kegiatan berlangsung. Warga menilai kekompakan pimpinan daerah yang hadir bersama masyarakat mencerminkan kedekatan tanpa sekat.Seorang warga Medan Barat, Ina (34), mengaku senang melihat langsung kebersamaan Wali Kota Medan bersama jajaran Forkopimda di CFD.“Jarang-jarang bisa lihat Wali Kota, Kapolrestabes, dan Dandim hadir bersama seperti ini. Terasa dekat dan kompak, kami jadi bangga,” ujarnya.Usai kegiatan, Rico Waas bersama Kapolrestabes dan Dandim melanjutkan kebersamaan dengan sarapan pagi di kawasan Jalan Gwangju, Kesawan, sambil tetap berbaur santai bersama masyarakat.
24 Mei 2026LensaDaily - Ribuan masyarakat memadati Lapangan Merdeka Medan yang menjadi lokasi pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah Sabtu 21 Maret 2026. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap turut membersamai menunaikan ibadah sekaligus merayakan hari kemenangan tersebut.Turut pula Sekretaris Daerah Wiriya Alrahman, Ketua TP PKK Kota Medan Ny. Airin Rico Waas, serta istri Wakil Wali Kota Medan Ny. Martinijal Zakiyuddin Harahap serta Ketua Dharmawanita Kota Medan Ny Ismiralda Wiriya Alrahman serta Tokoh masyarakat dan Tokoh agama. Kehadiran jajaran Pemko Medan di tengah masyarakat menambah hangatnya suasana Idulfitri yang penuh makna.Pada pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 H ini bertindak sebagai Khatib Ir. H. Tifatul Sembiring dan Imam salat Adnan Tumangger, Spd. Dalam kesempatan tersebut, Rico Waas mengajak seluruh lapisan masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum untuk memperkuat persatuan dan kebersamaan dalam membangun kota. Dengan semangat *Medan untuk Semua*, ia menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam mendorong kemajuan di berbagai sektor.“Idulfitri ini menjadi momentum bagi kita semua untuk kembali bersatu, memperkuat kebersamaan, dan bersama-sama membangun Kota Medan yang kita cintai,” kata Rico Waas.Rico Waas menyadari bahwa Kota Medan yang majemuk membutuhkan pendekatan yang tidak sederhana dalam menyatukan berbagai elemen masyarakat. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang berkelanjutan dan pendekatan yang tepat kepada setiap kelompok.“Semua elemen harus dirangkul satu per satu dengan cara komunikasi yang berbeda-beda. Kita paham Medan ini sangat majemuk, jadi tidak bisa sekali jalan langsung selesai. Ini butuh proses terus-menerus,” jelas Rico Waas.Lebih lanjut, Rico Waas juga memaknai Idulfitri sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan otokritik, khususnya dalam upaya pembangunan kota. Ia menyinggung peristiwa banjir yang sempat melanda sejumlah wilayah di Medan sebagai pengingat penting bagi semua pihak.“Kita baru saja melewati bencana. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih memperhatikan lingkungan dan sesama. Pembangunan infrastruktur harus diperkuat agar masyarakat lebih berdaya dan kota kita semakin tangguh ke depan,” ujar Rico Waas Menurut Rico Waas pembangunan yang dilakukan harus berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, bukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Dengan demikian, hasil pembangunan benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh warga.Dalam kesempatan tersebut, Rico Waas juga menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda, khususnya Gen Z di Kota Medan. Ia mengingatkan pentingnya menjaga diri dari pengaruh negatif serta memanfaatkan teknologi secara bijak.Orang nomor satu di Pemko Medan ini juga menyoroti tiga hal utama yang harus dihindari generasi muda, yakni penyalahgunaan narkoba, praktik judi, serta penggunaan teknologi yang tidak produktif.“Kita yang harus mengendalikan teknologi, jangan sampai kita yang dikendalikan. Gunakan gadget untuk hal-hal yang produktif, untuk berusaha dan membangun masa depan, bukan sekadar menjadi penonton,” jelas Rico Waas.Terkait hari raya Idulfitri, Rico Waas berharap semangat Idulfitri yang sarat dengan nilai kebersamaan, keikhlasan, dan saling memaafkan dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat hari raya.Dirinya optimistis, dengan dukungan dan kolaborasi seluruh masyarakat, Kota Medan dapat terus berkembang menjadi kota yang lebih maju, inklusif, dan sejahtera.“Semoga semangat Idulfitri ini terus kita bawa dalam setiap langkah kita membangun Medan, menjadikan kota ini rumah yang nyaman untuk semua,” pungkasnya.Sebelumnya dalam tausyiah yang disampaikan Khatib Ir H Tifatul Sembiring menyampaikan pada hari ini dengan berhati kita meninggalkan bulan suci Ramadan nan penuh berkah. Di mana Allah SWT pada hari-harinya telah mencurahkan rahmah, memberikan kucuran magrifahnya serta membebaskan manusia dari siksaan api neraka."Mudah-mudahan segala perjuangan amal ibadah kita, rukuk kita sujud kita, qiyam kita diterima Allah SWT. Semakin Taqarrub kita kepada Allah SWT serta memberikan buah ibadah yang dijanjikan itu derajat Taqwa", katanya.Di momentum Idulfitri 1447 H, Tifatul Sembiring berharap Allah SWT dapat menjauhkan kita dari musibah. Mengingat belakangan ini banyak musibah yang menimpa negeri yang kita cintai. "Semoga kita semua rakyat di negeri tercinta Indonesia ini dijauhkan dari segala macam musibah dan bencana", ucapnya.
21 Maret 2026LensaDaily - Pemko Medan berencana matangkan persiapan pelaksanaan salat Idulfitri (Salat Ied) 1447 Hijriyah di lapangan Merdeka, Kecamatan Medan Barat, Sabtu 21 Maret 2026. Selain salat Ied, akan ada juga malam takbiran dan pawai kendaraan hias yang digelar di dua titik yakni di seputaran Lapangan Merdeka dan Kecamatan Medan Belawan.Demikian hal ini tersampaikan dalam rapat koordinasi persiapan akhir malam takbiran dan Salat Idulfitri 1447 H yang dipimpin Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan, Muhammad Sofyan di lapangan Merdeka, Kamis 19 Maret 2026. Rapat ini dihadiri unsur Forkopimda, perwakilan polrestabes Medan, perwakilan Dandim 0201/Medan, segenap Pimpinan Perangkat Daerah di lingkungan Pemko Medan dan Camat se- Kota Medan.Dalam rapat tersebut diketahui pelaksanaan salat Ied 1447 Hijriyah akan dipimpin Adnan Tumangger sebagai Imam dan Ir H Tifatul Sembiring yang bertindak sebagai Khatib.Selain itu dalam rapat juga dibahas berbagai hal teknis yang menjadi fokus pembahasan. Beberapa di antaranya meliputi lokasi pelaksanaan Salat Idulfitri, kesiapan sarana dan prasarana, pengaturan arus lalu lintas termasuk parkir kendaraan di sekitar lokasi kegiatan hingga aspek pengamanan dan kebersihan lingkungan."Saya minta semua pihak yang terlibat dalam kedua pelaksanaan ini dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan uraian tugasnya", kata Aspemsos.Menurut Sofyan, ini kali keduanya Lapangan Merdeka digunakan sebagai lokasi salat Ied setalah direvitalisasi. Dijelaskannya Wali Kota Medan Rico Waas beserta Ketua TP PKK Kota Medan dan Wakil Wali Kota H Zakiyuddin Harahap beserta Istri akan hadir dalam salat Ied. Selain itu unsur Forkopimda dan pejabat lainnya juga turut diundang dalam salat Ied di lokasi tersebut.Pemko Medan juga mengundang Gubernur Sumut dan Wakil Gubernur Sumut serta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) untuk turut melaksanakan Salat Idulfitri di lokasi tersebut."Untuk persiapan salat Ied, fasilitas baik itu mimbar dan tempat salat serta tempat Wudhu dan kamar mandi dalam proses pembangunan dan hari ini akan dirampungkan. Untuk kantong parkir Dishub akan menyediakan parkir untuk VVIP dan masyarakat termasuk kendaraan roda dua. Pengawasan parkir juga akan dilakukan oleh Satpol PP," jelas Sofyan.Terkait malam takbiran dan pawai kendaraan hias dijelaskan Sofyan, akan ada digelar di dua tempat yakni di Jalan Pulau Pinang, Lapangan Merdeka dan di Kecamatan Medan Belawan. "Takbiran dan kendaraan hias di Kecamatan Medan Belawan direncanakan akan dihadiri bapak Wali Kota Medan. Untuk kendaraan hias akan diikuti lebih dari 200 kendaraan," ungkapnya.
20 Maret 2026


