LensaDaily - Tersangka TFA (20) jaringan peredaran narkoba jenis pil ekstasi yang ditangkap Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut ternyata mahasiswa di Universitas Sumatera Utara (USU). Pihak Rektorat USU membenarkan jika TFA tercatat sebagai mahasiswa di kampus yang beralamat Jalan dr Mansur, Kota Medan itu dan menghormati proses hukum yang ditangani Polda Sumut."Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian. USU berkomitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai integritas, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap hukum," kata Direktur Direktorat Humas, Promosi dan Protokoler USU Prof. Dr. dr. Elmeida Effendy M.Ked(KJ)., Sp.KJ(K) dalam keterangan tertulisnya, Rabu 29 April 2026.Hasil poses hukum tersebut, lanjut Elmeida pun ditunggu pihaknya untuk kemudian menjadi dasar keputusan terhadap TFA sebagai mahasiswa di USU."Terkait dengan diduga mahasiswa USU tersebut, kami akan menunggu hasil penyelidikan resmi sebelum mengambil langkah lebih lanjut sesuai dengan peraturan akademik yang berlaku," jelasnya.Ia menegaskan, jika iniversitas juga secara konsisten melakukan pembinaan serta edukasi kepada seluruh mahasiswa mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba, bahkan sebelum menjadi mahasiswa di USU juga dilakukan pemeriksaan kesehatan termasuk narkoba.Sebelumnya, seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Kota Medan ditangkap polisi usai kedapatan menjual narkotika jenis ekstasi dengan sistem Cash On Delivery (COD). Penangkapan dilakukan oleh petugas yang menyamar sebagai pembeli dan memesan pil ekstasi itu, hingga disepakati bertemu untuk transaksi. Kasubdit II Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut, AKBP. Hendro Wibowo menjelaskan tersangka berinisial TFA (20) diamankan saat transaksi tepat di depan minimarket, di Jalan Bukit Barisan, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Rabu dini hari, 22 April 2026, sekitar pukul 00.30 WIB."Barang bukti diamankan berjumlah 10 butir pil ekstasi," sebut AKBP. Hendro Wibowo kepada wartawan di Mako Polda Sumut, Selasa 28 April 2026.Dalam menjalankan bisnis haram tersebut, mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Sumatera Utara (Sumut), dengan sistem order melalui telpon seluler, lalu dilakukan pemesanan hingga menggunakan sistem COD."Dia (pelaku) mengedarkan dengan cara melalui telepon. Jadi, kami sistem Cash On Delivery, bertemu di lokasi," jelas AKBP. Hendro Wibowo.AKBP. Hendro Wibowo mengatakan berdasarkan pemeriksaan terhadap TFA, bahwa barang haram itu, sudah dijualnya beberapa kali dengan sistem yang sama."Dari penyidik kami, tersangka sudah melakukan 4 sampai 5 kali transaksi. Status yang bersangkutan mahasiswa di Universitas Negeri di Sumatera Utara," kata AKBP. Hendro Wibowo.
29 April 2026Tag: universitassumaterautara
LensaDaily - Upaya memperkuat perencanaan kota dalam menghadapi risiko banjir dan perubahan iklim dilakukan Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Program Studi Teknik Lingkungan menggelar workshop Local Adaptation Planning Tools for Urban Flood Resilience yang digelar di Gedung Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU), Senin 27 April 2026. Tujuan workshop ini sebagai upaya memperkuat kapasitas perencanaan kota dalam menghadapi risiko banjir dan perubahan iklim.Wakil Rektor Bidang Penelitian, Inovasi, dan Kerja Sama USU, Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., menyampaikan bahwa workshop ini merupakan bentuk komitmen USU sebagai kampus berdampak dalam memberikan solusi terhadap permasalahan lingkungan, khususnya banjir yang tidak hanya menjadi persoalan daerah, tetapi juga nasional.“Kami berharap hasil dari workshop ini dapat menjadi bagian dari rekomendasi kebijakan yang didasarkan pada kajian akademik dan melibatkan berbagai pihak, sehingga mampu mendukung penanganan banjir di Kota Medan secara lebih efektif,” ujarnya.Direktur Asian Institute of Technology (AIT) Thailand RRC.AP, Dr. Guilberto Borongan, menekankan pentingnya pemanfaatan data dan teknologi adaptasi dalam mendukung perencanaan pembangunan kota. Ia menyebutkan bahwa penggunaan alat berbasis data dapat membantu pemerintah daerah dalam memodelkan risiko dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana.“Melalui penggunaan tools adaptasi ini, kota dapat lebih siap dalam memprediksi, merencanakan, dan memitigasi risiko banjir secara terukur,” katanya.Kepala Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan, Ferri Ichsan, S.T., M.Sc., M.Eng., menegaskan bahwa Kota Medan menghadapi tantangan besar akibat peningkatan urbanisasi, perubahan tata guna lahan, serta dampak perubahan iklim yang memperparah risiko banjir.“Perencanaan yang adaptif, terintegrasi, dan berbasis data menjadi sangat penting agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran dan berdampak bagi masyarakat,” ungkapnya.Perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup Jepang, Taiki Kohno, secara virtual turut menyampaikan dukungan terhadap penguatan kapasitas lokal dalam menghadapi perubahan iklim melalui kolaborasi lintas sektor.“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan lembaga internasional menjadi kunci dalam membangun ketahanan kota yang berkelanjutan,” jelasnya.Head of Climate Change AIT RRC.AP, Huno Solomon, dalam sesi wawancara menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan memperkenalkan alat adaptasi yang telah digunakan di berbagai kota di Asia Tenggara.“Alat ini membantu kota dalam memodelkan risiko banjir, menganalisis data, serta mempersiapkan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak terhadap infrastruktur dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai instansi pemerintah dan perwakilan dari beberapa universitas seperti UISU, UNIMED, UMSU, POLMED, serta sivitas akademika USU. Melalui workshop ini, USU menegaskan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mendukung pembangunan kota yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
27 April 2026LensaDaily - Yayasan Rumah Ceria Medan (YRCM), sebuah sekolah berbasis inklusif di Kota Medan dengan segudang dampak positifnya bagi masyarakat. Didirikan oleh Yuli Yanika selaku founder, serta Risa Riskayanti yang merupakan lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU).Sekolah ini berlokasi di Jalan Bunga Cempaka VII No.41 Y, Padang Bulan Selayang II, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara. Pada sekolah ini, bahasa isyarat adalah salah satu bahasa yang diwajibkan untuk berkomunikasi. Tidak hanya diperuntukan bagi disabilitas, tetapi non-disabilitas hingga seluruh pengajar wajibmengetahui bagaimana berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Hal inilah yang menjadi pembeda Rumah Ceria Medan dengan sekolah lainnya.Untuk pendanaan sekolah, Rumah Ceria Medan menerapkan sistem Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) silang. Adapun SPP silang ini diterapkan untuk membantu anak-anak yang memiliki kesulitan secara ekonomi. Sehingga, bagi anak-anak yang tidak memiliki masalah ekonomi akan membayar biaya sekolah secara penuh, tetapi bagi anak-anak yang memiliki masalah ekonomi akan dikenakan biaya yang semampunya. Yayasan Rumah Ceria Medan sangat tegas untuk tidak menerapkan sistem biaya pendidikan gratis bagi anak-anak karena memberikan dampak negatif.Yuli selaku salah satu guru di YRCM mengatakan alasan pihak sekolah untuk tidak menerapkan sistem gratis di sekolah bagi anak-anak adalah agar mereka berusaha dalam meraih masa depannya.“Kalau dari kita memang menghindari yang namanya biaya pendidikan gratis bagi anak-anak. Alasannya agar mereka bisa berusaha dalam meraih masa depannya, jika ada masalah ekonomi daripada gratis kita lebih memilih yang namanya SPP silang aja. Jadi seberapa mereka sanggup itulah yang bisa mereka bayarkan ke sekolah,” tutur Yuli.Adanya SPP silang ini membantu anak-anak untuk bisa hidup mandiri demi dan tidak selalu bergantung kepada orang lain. Selain itu, anak-anak dan orang tua juga diharapkan bisa berusaha dalam melaksanakan kewajiban mereka yakni dalam hal biaya pendidikan sekolah. Dengan begitu, anak-anak akan tumbuh dengan memiliki pola pikir bahwa dalam mencapai tujuan dan masa depan harus berupaya dengan keras sehingga bisa bertahan di dunia pekerjaan.Yuli juga mengungkapkan harapannya dengan menerapkan adanya SPP silang bagi anak-anak di YRCM yaitu agar terbiasa hidup dengan berupaya terlebih dahulu dan dapat hidup mandiri.“Harapannya sih bagi anak-anak dan orang tua melalui SPP silang ini yakni mereka bisa terbiasa untuk hidup dengan berupaya terlebih dahulu dan bisa hidup mandiri. Mereka juga harapannya bisa hidup tanpa selalu mengandalkan bantuan gratis dari orang lain, biar lebih terbiasa saja,” jelas Yuli. Tidak hanya melalui SPP, YRCM juga mendapatkan pendanaan melalui orang tua asuh yang hadir untuk membantu anak-anak di sekolah. Para orang tua asuh ini akan memberikan bantuan dana kepada satu anak atau lebih tergantung dari kesanggupan setiap orang tua. Dalam mencari orang tua asuh, biasanya pihak sekolah akan memanfaatkan media sosial dalam menyebarkan informasi.
19 November 2025LensaDaily - Bagi sebagian orang, dunia perkuliahan menjadi tempat untuk menemukan versi terbaik dirinya. Begitu pula dengan Helen, alumni Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU), yang membuktikan bahwa anak daerah juga mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Dari sosok pendiam di bangku sekolah hingga menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional, perjalanan Helen menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari keberanian kecil untuk keluar dari zona nyaman.Helen mengakui bahwa dirinya bukanlah tipe yang langsung aktif di depan banyak orang. Ia tumbuh sebagai pribadi yang introvert - lebih suka memperhatikan daripada berbicara, lebih nyaman mendengarkan daripada menjadi pusat perhatian. Semasa SMA, ia jarang mengikuti kegiatan di luar kelas dan lebih fokus pada urusan akademik.Namun segalanya berubah ketika ia memasuki dunia kampus. Lingkungan baru di USU menjadi titik balik bagi Helen untuk menantang dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa kesempatan untuk berkembang sangat luas, asalkan berani mengambil langkah pertama.“Sejak kuliah, saya mulai berinisiatif ikut berbagai kegiatan untuk menambah pengalaman, relasi, dan isi CV yang dulu kosong. Awalnya karena FOMO melihat teman-teman yang produktif, tapi ternyata itu membawa banyak hal positif. Motivasi utama saya adalah menambah uang saku dari lomba dan volunteer, bisa eksplor dunia luar lewat program exchange, membanggakan orang tua lewat prestasi, serta membangun personal branding agar bisa memberi dampak bagi orang lain,” ungkapnya.Dari situ, langkah kecil Helen berkembang menjadi deretan pencapaian besar. Ia aktif di organisasi mahasiswa, mengikuti berbagai pelatihan, dan terlibat dalam kegiatan sosial kampus. Perlahan, sifat introvertnya bukan lagi penghalang, tetapi justru menjadi kekuatan yang membuatnya lebih reflektif dan fokus pada tujuan.Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Helen adalah ketika ia lolos program pertukaran pelajar ke Korea Selatan.“Exchange ke Korea benar-benar jadi tantangan besar buat aku, mulai dari persiapan berkas, pengurusan visa, sampai adaptasi di sana. Ini pengalaman exchange pertamaku, dan aku harus bertahan selama tiga bulan menghadapi kesulitan bahasa, komunikasi dalam bahasa Inggris setiap hari, penelitian, serta perbedaan budaya,” tuturnya.Pengalaman itu membuka pandangannya bahwa anak daerah seperti dirinya pun bisa menembus batas dunia. Dari Medan ke Korea, Helen membuktikan bahwa tekad dan kerja keras bisa membawa siapa pun melangkah jauh.Berbagai pencapaian yang diraih Helen kemudian membawanya menyandang gelar Mahasiswa Berprestasi Nasional, sebuah pengakuan atas dedikasi dan konsistensinya dalam berkarya. Ia menjadi simbol bahwa mahasiswa dari daerah bukan hanya mampu bersaing, tetapi juga siap berkontribusi untuk membawa nama Indonesia ke kancah global.“Menurutku, yang penting itu bukan seberapa cepat kita maju, tapi seberapa berani kita untuk mulai. Aku belajar bahwa keluar dari zona nyaman bukan berarti mengubah diri jadi orang lain, tapi menemukan sisi terbaik dari diri sendiri,” ujarnya.Kini, setelah menamatkan pendidikannya di Fakultas Farmasi USU, Helen memandang perjalanan kuliahnya sebagai proses yang membentuk jati diri. Dari Medan untuk Indonesia, ia telah membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba adalah awal dari setiap prestasi besar.Kisah Helen menjadi inspirasi bahwa anak daerah juga bisa mendunia—selama ada tekad untuk terus belajar, berkembang, dan tidak takut keluar dari zona nyaman. Karena sejatinya, prestasi bukan hanya tentang kemampuan, tetapi tentang keberanian untuk melangkah dan membawa perubahan.
10 November 2025


